Proteksi untuk Usaha Kecil Menengah

Di tengah pesatnya pembangunan di hampir semua pusat-pusat perkotaan belakangan ini,  tidak saja berdampak positif, namun juga menyisakan persoalan yang tidak boleh dianggap enteng. Kehadiran berbagai pusat perbelanjaan baru di tengah-tengah kota,  baik yang dimiliki oleh pengusaha lokal maupun pengusaha asing menimbulkan ekses negatif terhadap perkembangan usaha kecil / peritel kecil yang ada.

Banyak sudah yang berkeluh kesah dan merasa terancam dengan kehadiran hypermarket-hypermarket yang seolah-olah mengepung mereka dari berbagai penjuru kota. Dilain pihak pemerintah kota yang seharusnya menjadi regulator dan menjadi lembaga yang seharusnya dapat memproteksi keberadaan usaha-usaha kecil terkesan hanya menutup mata dan membiarkan hypermarket-hypermarket tersebut tumbuh subur bak cendawan di musim hujan.

Lihatlah nasib Pak Sani, ayah dari 3(tiga) orang anak yang masih duduk dibangku sekolah, dan  seorang pedagang kecil yang menggantungkan hidup keluarganya dari hasil berjualan makanan kecil , minuman, sabun mandi sampai telur ayam dsb. Sebagai seorang pensiunan guru sekolah dasar, Pak Ahmad memutuskan untuk berdagang kecil-kecilan dari modal tabungan yang seadanya. beberapa tahun lalu kehidupan Pak Ahmad dari hasil berdagang ini lumayan mencukupi untuk menghidupi keluarganya, namun kini ditengah menjamurnya hypermarket yang ada di hampir semua penjuru kota, hasil penjualan dari toko kecilnya  jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Karena dengan banyaknya hypermarket yang ada, masyarakat kita lebih memilih untuk berbelanja di toko-toko besar, supermarket, atau ke hypermarket. Kadang-kadang hanya untuk berbelanja sabun cuci, sabun mandi dan shampoo, kita rela mengeluarkan biaya transportasi dan rela mengantri di supermarket / hypermarket, yang sebenarnya kalau dihitung-hitung selisih biaya ekonomisnya cuma beda lima ribuan perak saja. Tapi secara tidak sadar kita telah ikut membunuh perlahan-lahan keberadaan toko-toko kecil yang ada di sekitar lingkungan kita.

Apakah kemudian kita berharap toko-toko kecil ini bisa menerapkan harga barang yang sama dengan barang-barang yang ada di hypermarket?  Coba kita lihat kembali, murahnya barang-barang yang ada di hypermarket disebabkan karena mereka membeli barang dalam jumlah yang besar, yang kemudian mendapatkan harga yang murah dari para supplier dan distributor. Sementara toko-toko kecil mendapatkan pasokan barang dari para supplier dalam jumlah terbatas dan dengan potongan harga yang terbatas pula. Disinilah kenapa kemudian masyarakat lebih cenderung memilih berbelanja kebutuhan sehari-harinya di hypermarket-hypermarket yang ada. Atau barangkali kita perlu melakukan survey harga terlebih dahulu dan melakukan compare harga antara hypermarket dan toko-toko kecil di samping rumah, benarkah selisih harga yang ditawarkan melampui batas kemampuan ekonomi kita untuk membeli?.

Kita percaya bahwa Pak Ahmad tidak sendiri, ribuan pedagang kecil lainnya bernasib sama dengan Pak Ahmad. Bahkan banyak diantaranya lebih memilih tutup karena berdagang sudah tidak lagi menguntungkan.

Coba kita renungkan kembali, dengan tidak melindungi usaha-usaha kecil seperti Pak Ahmad, bukankah sama saja dengan membiarkan pengusaha-pengusaha ritel besar dan pengusaha asing menginjak-injak usaha kecil hingga akhirnya mati suri?? Tapi sebaliknya, jika kita terlalu melindungi usaha-usaha kecil tadi, bukankah kita nanti dicap sebagai anti perdagangan bebas?

Atau apakah kita setuju, jika semuanya perlu ada aturan, dan semuanya diberi tempat untuk berusaha sendiri-sendiri sehingga tumbuh berdampingan secara sehat dan saling menguntungkan? Kita percaya, bahwa dengan adanya persaingan bebas sangat dimungkinkan masuknya peritel-peritel asing dan pemodal besar ke dalam negeri, tetapi kemudian jika tidak di atur dan dilindungi secara bijak, maka yang akan terjadi adalah seperti pertarungan tinju yang tidak adil, dimana petinju kelas berat melawan petinju kelas ringan, dan dengan mudah kita bisa menebak hasil akhirnya. Karena itu perlu ada regulasi yang jelas dan berpihak bagi kelangsungan usaha-usaha kecil untuk dapat tumbuh dan berkembang secara wajar.

Adakah caranya? Barangkali yang perlu diperhatikan oleh para usaha kecil ini adalah membentuk suatu serikat atau perkumpulan dan semacamnya, untuk memperjuangkan hak-hak mereka ke pemerintah kota, bisa melalui usulan kepada pemerintah untuk membuat regulasi atau semacam peraturan daerah yang mengatur tentang  pembatasan “zoning law” atau  pembatasan izin usaha bagi ritel besar dan ritel asing agar tidak terus tumbuh menjamur dimana-mana, dan meminta pemerintah untuk mewajibkan kepada  pemilik toko-toko besar / mall / hypermarket untuk menyediakan 10% tempat bagi usaha kecil untuk berdagang / berjualan di tempat mereka. Dan memberikan sanksi atau punishment yang jelas dan keras bagi setiap pengusaha-pengusaha besar yang melanggar peraturan ini. Namun kemudian, jika toko-toko kecil ini lebih memilih pasrah dan berdiam diri, siapa lagi yang akan membela nasib mereka kalau bukan mereka sendiri?

Dari sudut konsumen atau kita, barangkali tidak ada salahnya jika memberi kesempatan kepada toko-toko kecil di dekat rumah atau dilingkungan kita untuk meraih sedikit keuntungan dan profit. Daripada memberikan uang kita untuk para peritel besar di hypermarket yang kemudian hasil usahanya digunakan kembali untuk membuka cabang-cabang di daerah lainnya, yang akhirnya dapat mematikan usaha-usaha kecil di sekitar kita. Seperti jika ingin membeli sedikit makanan kecil, minuman, deterjen, telur, indomie dsb, cukup berbelanja di toko sebelah rumah. Kita senang, mereka pun senang, ekonomi masyarakat kecil kita juga akan meningkat dan semakin kuat dan ini sejalan dengan visi misi pemerintah untuk memajukan usaha kecil menengah. Tentu ini jauh lebih baik.300

Related Posts