Jangan Panggil Aku “INDON”

“Awak orang Indon ye?”
“Bukan, saya orang Indonesia.”

“ah sama sajalah. Orang Indon lah.”
“Saya tidak tahu di dunia ini ada bangsa Indon. Saya orang Indonesia.”

Indon adalah sebuah istilah yang populer di Malaysia dan Singapura yang mengacu kepada Indonesia, sama seperti halnya istilah Brit untuk Britania Raya,  amrik untuk amerika. Di Indonesia sendiri, istilah ini berkonotasi negatif. Pada tahun 2006, pemerintah dan rakyat Indonesia menentang penggunaan kata Indon yang dianggap menghina.

Sehubungan dengan hal tersebut, pihak Pemerintah Indonesia melalui Sekretaris I Penerangan & Humas KBRI Eka A. Suripto menjelaskan bahwa pihak Duta Indonesia sudah menyampaikan protes secara resmi kepada duta Malaysia di Indonesia pada 13 Mei 2007. Pemerintah Malaysia kemudian mengambil tindakan dengan mengeluarkan larangan penggunaan istilah ini secara resmi oleh Kementerian Penerangan Malaysia, pada 24 Mei 2007.

Dalam kamus bahasa Indonesia yang disempurnakan atau dalam kamus Times Comparative Dictionary of Malay-Indonesian Synonyms, yang dikumpulkan oleh Dr. Leo Suryadinata dan diedit oleh Prof. Abdullah Hassan (Singapura dan Kuala Lumpur: Times Books International), tidak ditemukan satu perkataan pun yang merujuk pada kata indon ini. Tidak ada yang bisa memastikan, sejak kapan istilah  indon ini mulai digunakan, dan siapa pula yang memulainya. Faktanya, sampai hari ini, istilah ini kerap dijumpai di mana-mana tempat: di kedai-kedai teh tarik, di jalan-jalan, lebih-lebih lagi di media –utamanya media cetak. Hampir setiap hari, ada saja media cetak Malaysia yang menggunakan istilah tersebut dalam beritanya. Beberapa contoh pemberitaan tersebut, antara lain “Mafia Indon Mengganas”, “Indon Cemar KL”, “Gateaway for Indon Criminals”, “Indon Curi Air Penduduk”, “25.000 Pekerja Indon Bawa Penyakit” dan sebagainya.

Julukan “Indon” bagi sebagian masyarakat Indonesia di Malaysia memang berkonotasi hinaan; di dalamnya ada makna bodoh, pemalas, kotor dan mudah ditipu. Kata ini populer ketika maraknya TKI di Malaysia tahun 90-an. Walau sebenarnya sudah lama kata itu dipergunakan di Malaysia, tetapi pemaknaan sebagai hinaan baru muncul pada tahun itu.

Inilah kemudian yang sering memicu timbulnya reaksi berlebihan tatkala terjadi ketegangan hubungan antara Indonesia dan Malaysia, Seperti yang terjadi baru-baru ini dimana 3 (tiga) petugas DKP di tangkap Polis Diraja Malaysia karena di duga menculik nelayan malaysia. Ketegangan ini membuat masyarakat Indonesia ‘murka’ hingga membakar bendera Malaysia dan melempar ‘kotoran’ ke kantor Kedutaan Malaysia di Jakarta, belum lagi maraknya penyiksaan tenaga kerja Indonesia di Malaysia, seperti penyiksaan Nirmala Bonat atau Ceriyati dan kasus-kasus penyiksaan lainnya yang menambah daftar ‘kejengkelan’ Rakyat Indonesia terhadap Malaysia.

Tapi barangkali kita perlu merenungkan sejenak, mengapa kemudian 2 (dua) negara serumpun ini selalu berada dalam situasi hubungan yang panas – dingin. Setelah era soekarno yang menyerukan propaganda “Ganyang Malaysia”, berlanjut kemudian pada kasus perbatasan kedua Negara (perebutan Pulau Sipadan dan Ligitan), hingga kasus-kasus penyiksaan TKI di Malaysia.  Bagaimana jika kemudian, konflik kita dengan dengan negeri jiran ini adalah karena ketidakmampuan kita sendiri untuk mengatur negeri yang (katanya) kaya-raya dan berlimpah sumber daya dan dihuni  oleh bermacam ragam suku bangsa yang ramah-ramah. Bukankah persoalan pencurian  sumber daya alam, klaim budaya, dan masalah Tenaga Kerja Indonesia, semuanya adalah masalah kita sendiri?

Persoalan TKI yang saat ini mendekati jumlah 3 juta orang di Malaysia adalah persoalan dilematis bagi bangsa. Membengkaknya jumlah TKI yang mengadu nasib di negeri orang, tidak lain dan tidak bukan adalah karena ketidakmampuan pemerintah untuk menjamin terciptanya lapangan kerja yang cukup dan dengan upah kerja yang memadai pula bagi rakyatnya. Karena minimnya lapangan kerja dan upah dinegeri sendiri,  menyebabkan masyarakat kita banyak yang tergiur untuk mengadu nasib di negeri orang dengan menjadi TKI baik melalui jalur resmi maupun jalur illegal.

Saatnya pemerintah kita berperan aktif dan menyadari betapa Indonesia di karunia oleh Allah SWT beragam kelebihan yang patut untuk dijaga dan disyukuri. Perlu dimulai adanya gerakan cinta Indonesia, rasa memiliki yang tinggi terhadap budaya dan kekayaan sumber-sumber daya negara. Jangan sampai pengalaman buruk akan budaya sendiri yang di klaim milik bangsa lain terulang kembali. Saatnya pemerintah dan masyarakat Indonesia menyadari pentingnya melestarikan dan menghargai warisan budaya yang kita miliki sebagai potensi dan jati diri bangsa. Saatnya kita juga memperbaiki kekeliruan kita yang sering menyebut kata  INDONESIA dengan ENDONESIA !

Related Posts